Langsung ke konten utama

Hari Itu

Hari itu, tak pernah kusangka akan mengubah semua cerita hidupku yang sudah kutulis dalam kumpulan dan lembaran mimpi. Mimpi yang sungguh tersimpan dalam benak hati, yang mungkin bisa sedikit membayar segala kebaikan yang tak terhingga itu. Mimpi yang bisa mengukir senyuman yang tulus dari wajahnya. Mimpi yang bisa mewakili semua rasa terima kasih dan bangga akan yang pernah kudapat darinya. Dan semua itu, sirna tanpa bekas seketika itu juga.

Hancur, remuk, redam. Tak dapat dibayangkan kepingan-kepingan hati yang tercerai berai jatuh berantakan di lantai yang basah, basah akan wujud fisik dari rasa kekecewaan mendalam. Tak bisa kuberpikir lagi saat itu, yang ada hanyalah rasa ketidakpercayaan akan hal yang terjadi tepat didepan kedua mataku.



Sosok yang tak pernah tergantikan. Sosok yang selalu ada saat semua hilang. Sosok yang selalu mengajari apa arti kuat itu sebenarnya. Sosok yang membuat bangkit keseribukalinya setelah ku terjatuh keseribukalinya.

Sakit ku pendam rasanya saat itu. Seketika mengeluap dengan dahsyatnya ku teriakkan suara isak tangis tak tertahankan itu. Ku lampiaskan semua yang ada dan bergejolak meluap-luap dalam dada ini. “kenapa?? Kenapa ?? kenapa sekarang?? Apa tidak bisa ditunda lagi??”,

Seketika itu juga ku goyang-goyang tubuhnya, tubuh, jiwa, raga yang selama ini menjagaku mulai ku tak bisa berbicara, tak bisa berjalan, tak bisa melakukan apa-apa sendiri kini terbaring kaku tak merespon apa yang meluap-luap dalam dada yang sesak ini.

Semua terlihat nyata. Beliau sudah terlebih dahulu dan tak sabar bertemu dengan-Nya. Tak ada lagi yang bisa kuperbuat. Setelah sekian kali ku goncang-goncang tubuhnya hingga seseorang berkata “ Sudah, sudah,”. Oke, sudah. Beralih ku lampiaskan perasaan ini, terlihat olehku, benda tak berdaya didepan mata. Ku pukul, ku lampiaskan semuanya, tanpa sadar, kepalaku juga ikut melampiaskan kekesalan ini. Ku benturkan berkali-kali kepalaku sambil terisak-isak ku coba keluarkan semuanya. Semua yang meronta-ronta dalam dada yang sudah sesak ini.
“Sudah, sudah, mungkin Allah lebih sayang, makanya dipanggil duluan”

Oke, kucoba berdiri, tegap, meskipun sulit. Kupandangi sekitar ku. Astaga, aku harus terlihat tegar dan kuat di depan mereka. Dua orang bocah yang akan mengalami status sama dengan ku, tapi bedanya mereka justru lebih muda dariku, lebih sedikit waktu-waktu mereka dengan mama dan ayah, seharusnya aku, seharusnya aku bisa menenangkan mereka bukan malah yang merengek-rengek seperti aku lebih muda dari dua bocah itu. “Ayo kuatlah, tidak boleh seperti ini!”, teriak hatiku.

Perlahan tapi pasti, ku dekati mereka, ku duduk disamping mereka, mencoba menguatkan diri yang telah hancur ini sambil berkata, “sudah, tenang masih ada aku dan yang lain, masih banyak yang sayang kamu”. Wow, itu kata-kata terhebat dan termunafik yang ku keluarkan saat itu, padahal aku sendiri tidak kuat mengadapinya.

***






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tips Sahur Keren Ala aa_donDon

oke...alarm siap...sms kawan-kawan untuk dibangunkan juga sudah.. tidur deh sekarang..... *** 4.15 WITA. Alarm pun berbunyi. Aku pun terbangun mencari-cari di mana asal suara berisik itu. Ya, dapat. Kulihat jam 4.15. Oke,,pas waktunya. Dengan sempoyongan dan kepala sedikit berat ku ke kamar mandi. Mengambil wudhu. setelah selesai, sedikit bingung juga apa yang musti dilakukan dulu, membangunkan kawan-kawan atau langsung ke dapur. dan akhirnya aku memutuskan untuk membangunkan kawan-kawan terlebih dahulu, siapa tau ada yang belum bangun, kan kasian.. ku miscal mereka satu persatu sampai mereka reject, tandanya

Tak Ada yang Menjamin

  Berada dominan di lingkungan yang menjerumuskan. Interaksi pria-wanita nya tak terbataskan. Tak di dunia nyata, di dunia maya pun demikian. Akhirnya terjerumus dengan melanggar hal yang sudah di syariatkan. Misal saja dengan berpacaran. Padahal dulu begitu militan. Tulisan-tulisan dakwah berterbaran. Ah, memang istiqomah itu hal yang paling berat dipertahankan. Semoga saja kita semua, khususnya saya yang banyak dosa ini tetap Allah berikan tuntunan. Hingga ajal menyapa di depan.   Teringat sewaktu cerita-cerita dengan senior-senior saya di lembaga dakwah, beliau bilang ternyata faktor yang paling dominan membuat kader itu berhenti dari dakwah adalah ‘cinta’. Hmm…saya beri tanda petik kata ‘cinta’ tadi, karena kata itu saya khususkan untuk ‘cinta’ yang memang belum halal. Dan baru-baru saja ternyata ada kenalan, yang saya kenal juga seorang aktivis (dulunya), tapi ia berhenti belum lama. Setelah dilihat ternyata memang di dunia maya ia sering berinteraksi dengan lawan j...

Kebangkitan itu Nyata

Rencana besar itu sudah diketahui seluruh penduduk kerajaan saat itu.  "Siapapun yang melahirkan bayi laki-laki, bayi itu akan di bunuh !" Rencana itu muncul diakibatkan oleh ramalan yang menyebutkan bahwa akan ada seorang laki-laki yang mampu meruntuhkan kerajaan. Perempuan itu pun takut. apabila ia melahirkan bayi yang dikandungnya. ini adalah bayi laki-laki maka juga akan dibunuh. ia tidak akan rela. semuanya berjalan seperti yang ditakutkan. ternyata benar perempuan itu melahirkan bayi laki-laki. Cemas pun menghinggap di hatinya. Bagaimana ini? Langsung saja ia mengambil bayinya. Di buatkannya tempat yang mampu mengapung di air. Ia letakkan bayi tersebut di situ. dan dihanyutkanlah bayi tersebut ke sungai. Namun malang nasib bayi itu. bukannya terhindar dari singa malah masuk ke kandang singa. bayi itu terdampar di belakang kerajaan.ditemukan oleh putri kerajaan. di bawanya ke dalam istana dan diperlihatkan kepada ibunya.