Langsung ke konten utama

Penulis Harus Begini

berdoa-4Ternyata ini bukan sekedar sebuah kebiasaan. Ini pun juga bukan sekedar keahlian. Tapi ini tentang niat yang tulus, bersihnya jiwa, dan masuknya ruh-ruh yang magis dalam sebuah tulisan.

Malam ini agaknya sebuah status dari salah satu penulis yang juga menginspirasi saya benar adanya. Sebentar saya copaskan di sini,

Penting. Menulis naskah novel bukan sekadar soal imajinasi. Ini soal rasa. Ini juga soal memindahkan jiwamu ke dalam novel itu. Hingga energi ruhmu berpindah dan bersemayam di tiap kata yang tertuang. Jiwa dan ruhmu mampu menghidupkannya. Dengan begitu, ia pun menjadi belahan jiwamu.

Penting. Jika kini kau tak mampu merangkai kata, bisa jadi bukan karena miskin gagasan. Lihatlah ke dalam, jangan-jangan jiwamu telah mengering. Ruhmu telah layu tersebab tak pernah kau siram. Tak ada lagi yang bisa dibagikan. Energi yang ada dalam dirimu telah habis. Tak bersinar lagi.

Penting. Andai kini ruhmu sedang melayang-layang meninggalkanmu, maka segeralah panggil ia untuk kembali. Siapkan ragamu: bersihkan dan segarkan. Agar ruh yang kembali itu bisa lebih betah, nyaman, dan tidak akan pergi-pergi lagi. Raga, jiwa, pikiran, hati, dan ruh: menyatu padu.

Penting. Maka lihatlah, tak akan lahir sebuah naskah dari seorang penulis yang tak mampu memberesi dirinya sendiri. Tidak akan muncul inspirasi dari penulis yang malas memperbaiki diri. Ini bukan sekadar soal naskah, ini tentang diri kita sendiri. Maka, lihatlah ke dalam diri.

Penting. Sempatkan waktu untuk menyuburkan jiwa kita yang tengah kering. Sirami ia dengan ilmu. Suburkanlah dengan alunan nasihat bijak. Maka kata-kata itu akan dengan sendirinya mengalir dengan deras. Sebuah naskah pun akan mudah dirampungkan. Mudah sekali.

--Dwi Suwiknyo, Founder Pesantren Penulis--

Setidaknya itu status-status beliau yang membuat saya sejenak termenung. Memikirkan kembali. Mereka ulang semuanya. Menyusun kembali puzzle-puzzle cerita saya dan menulis. Sejak kapan saya mendedikasikan diri ingin menjadi penulis. Karena apa saya berbuat demikian. Untuk apa. Apa tujuan saya. Sudah sejauh mana sekarang. Siapa saya sekarang. Apakah masih tetap lurus seperti tujuan awal saya atau justru telah menyimpang ke arah lain. Niat yang awal bengkok? Ah, tulisan ini pun mengalir penuh layangan pikiran ber-flashback ria ke belakang.

Akhir-akhir ini pun kejadian persis seperti di status itu tadi terjadi dengan saya. Saya tak ada gairah untuk menulis seakan tak ada hal yang bisa dan mau saya bagikan. Sesaat semangat menulis ada, waktu pun juga tersedia namun entah apa yang ingin ditulis. Pikiran terasa kosong dan tak tau apa yang harus dituangkan. Ternyata jawabannya adalah kekeringan dalam jiwa saya. Dan itu memang benar.

Baiklah, agaknya siraman-siraman tuk menyuburkan jiwa memang jadi prioritas.

Saya teringat bagaimana cerita seorang penulis yang begitu menjiwai hingga saat menulis ia menangis tersedu-sedu sendiri. Atau bagaimana cerita seorang penulis yang memiliki ritual tersendiri, ia harus dalam keaadan berwudhu ketika mau menulis. Dan masih banyak lagi kisah-kisah hebat penulis inspiratif lainnya. Apalagi ketika kita membicarakan ulama’ – ulama’ terdahulu, yang luar biasa mendedikasikan dirinya untuk menulis, membagi malam-malamnya tuk bermunajat dan menulis.

Baiklah, saya perbaiki….

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tips Sahur Keren Ala aa_donDon

oke...alarm siap...sms kawan-kawan untuk dibangunkan juga sudah.. tidur deh sekarang..... *** 4.15 WITA. Alarm pun berbunyi. Aku pun terbangun mencari-cari di mana asal suara berisik itu. Ya, dapat. Kulihat jam 4.15. Oke,,pas waktunya. Dengan sempoyongan dan kepala sedikit berat ku ke kamar mandi. Mengambil wudhu. setelah selesai, sedikit bingung juga apa yang musti dilakukan dulu, membangunkan kawan-kawan atau langsung ke dapur. dan akhirnya aku memutuskan untuk membangunkan kawan-kawan terlebih dahulu, siapa tau ada yang belum bangun, kan kasian.. ku miscal mereka satu persatu sampai mereka reject, tandanya

Tak Ada yang Menjamin

  Berada dominan di lingkungan yang menjerumuskan. Interaksi pria-wanita nya tak terbataskan. Tak di dunia nyata, di dunia maya pun demikian. Akhirnya terjerumus dengan melanggar hal yang sudah di syariatkan. Misal saja dengan berpacaran. Padahal dulu begitu militan. Tulisan-tulisan dakwah berterbaran. Ah, memang istiqomah itu hal yang paling berat dipertahankan. Semoga saja kita semua, khususnya saya yang banyak dosa ini tetap Allah berikan tuntunan. Hingga ajal menyapa di depan.   Teringat sewaktu cerita-cerita dengan senior-senior saya di lembaga dakwah, beliau bilang ternyata faktor yang paling dominan membuat kader itu berhenti dari dakwah adalah ‘cinta’. Hmm…saya beri tanda petik kata ‘cinta’ tadi, karena kata itu saya khususkan untuk ‘cinta’ yang memang belum halal. Dan baru-baru saja ternyata ada kenalan, yang saya kenal juga seorang aktivis (dulunya), tapi ia berhenti belum lama. Setelah dilihat ternyata memang di dunia maya ia sering berinteraksi dengan lawan j...

Kebangkitan itu Nyata

Rencana besar itu sudah diketahui seluruh penduduk kerajaan saat itu.  "Siapapun yang melahirkan bayi laki-laki, bayi itu akan di bunuh !" Rencana itu muncul diakibatkan oleh ramalan yang menyebutkan bahwa akan ada seorang laki-laki yang mampu meruntuhkan kerajaan. Perempuan itu pun takut. apabila ia melahirkan bayi yang dikandungnya. ini adalah bayi laki-laki maka juga akan dibunuh. ia tidak akan rela. semuanya berjalan seperti yang ditakutkan. ternyata benar perempuan itu melahirkan bayi laki-laki. Cemas pun menghinggap di hatinya. Bagaimana ini? Langsung saja ia mengambil bayinya. Di buatkannya tempat yang mampu mengapung di air. Ia letakkan bayi tersebut di situ. dan dihanyutkanlah bayi tersebut ke sungai. Namun malang nasib bayi itu. bukannya terhindar dari singa malah masuk ke kandang singa. bayi itu terdampar di belakang kerajaan.ditemukan oleh putri kerajaan. di bawanya ke dalam istana dan diperlihatkan kepada ibunya.